Selasa, 3 November 2026

Breaking News

  • Sholat Dhuha Jam Berapa Sudah Boleh Dikerjakan? Ini Penjelasan Waktu dan Batas Akhirnya   ●   
  • Paguyuban FPK Riau Tampilkan Ragam Budaya, Meriahkan Arak-arakan LAM Riau   ●   
  • Paguyuban Sumbagsel dan FPK Riau Perkuat Silaturahmi, Jaga Keharmonisan Masyarakat   ●   
  • Pemkab Siak Gelar Yasinan dan Doa Bersama untuk Almarhum H. Arwin AS   ●   
  • SF Hariyanto: Jangan Lengah, Ancaman Banjir dan Longsor Mengintai Saat Musim Hujan   ●   
Mengapa Warna Ube Lebih Tahan Panas Dibanding Ubi Ungu? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Sabtu 29 Agustus 2026, 09:22 WIB
Ubi Ungu.

UBE atau ubi Dioscorea alata kini semakin populer dalam berbagai kreasi kuliner. Warna ungunya yang pekat dan menarik banyak digunakan dalam pembuatan roti, kue, minuman hingga makanan penutup.

Meski sekilas mirip, ube sebenarnya berbeda dengan ubi ungu atau Ipomoea batatas. Selain berasal dari jenis tanaman yang berbeda, pigmen warna pada ube juga memiliki karakteristik yang membuatnya relatif lebih tahan terhadap panas saat diolah.

Ahli pengolahan pangan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran, Dr Aldila Din Pangawikan, menjelaskan warna ungu pada ube maupun ubi ungu berasal dari senyawa antioksidan bernama antosianin.

Namun, karakteristik antosianin pada setiap tanaman tidak selalu sama. Salah satu faktor yang memengaruhi kestabilannya adalah struktur kimia yang disebut asilasi.

Antosianin Membuat Ube Tetap Ungu

Menurut Aldila, ubi ungu yang umum dikonsumsi juga memiliki antosianin terasilasi. Senyawa tersebut membuat warna ungu pada ubi relatif tetap bertahan meski telah melalui proses pemasakan.

Perbedaannya terdapat pada tingkat asilasi. Ubi ungu umumnya memiliki antosianin monoasilasi, sedangkan ube memiliki antosianin yang lebih banyak mengalami diasilasi.

“Ubi ungu yang biasa kita konsumsi kalau direbus masih ungu dan masih bagus. Itu monoasilasi atau terikat satu asam. Sementara yam atau ube mengalami diasilasi, terikat dua asam, sehingga ketika dipanaskan cenderung lebih stabil dibandingkan ubi berwarna ungu lainnya,” jelas Aldila kepada detikcom, Kamis (27/8/2026).

Ia mengibaratkan struktur tersebut seperti rantai pelindung. Semakin kuat ikatannya, pigmen antosianin semakin mampu bertahan ketika terkena panas.

Aldila menyebut ube memiliki tingkat kestabilan panas yang cukup tinggi dibandingkan sumber pigmen ungu lainnya. Pada kondisi pH 2,5 dan suhu 60 derajat Celsius, pigmen ube disebut masih mampu mempertahankan sekitar 72 persen kestabilannya.

Karakteristik tersebut membuat ube berpotensi dikembangkan sebagai pewarna alami makanan. Pemanfaatannya dinilai menarik, terutama untuk industri roti dan produk kembang gula atau confectionery.

Tidak Selalu Tahan terhadap Lingkungan

Meski relatif stabil terhadap panas, pigmen ube bukan berarti tidak mudah mengalami perubahan. Antosianin tetap sensitif terhadap sejumlah kondisi lingkungan, termasuk perubahan tingkat keasaman, cahaya, dan oksigen.

Aldila menjelaskan, keberadaan gugus asam pada pigmen membuat warna ube lebih stabil dalam kondisi asam. Sebaliknya, ketika berada pada lingkungan netral atau basa, struktur pigmen dapat mengalami degradasi.

“Warnanya berubah menjadi merah kebiruan yang akhirnya memang meluntur,” katanya.

Selain perubahan pH, pigmen ube juga dapat mengalami fotodegradasi atau kerusakan akibat paparan cahaya. Reaksi oksidasi juga dapat mempercepat perubahan warna, terutama ketika jaringan ube terbuka atau mengalami kerusakan sehingga lebih mudah bersentuhan dengan oksigen.

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah keberadaan enzim Polyphenol Oxidase (PPO). Enzim tersebut dapat memicu perubahan warna ube menjadi kecokelatan.

Karena itu, dalam pengolahan skala industri, ube umumnya menjalani proses blanching atau pemanasan singkat. Tahapan ini dilakukan untuk membantu menonaktifkan enzim sehingga warna alami ube dapat lebih terjaga selama proses pengolahan.

Ube Berbeda dengan Ubi Ungu

Meskipun sama-sama memiliki warna ungu, ube dan ubi ungu merupakan dua jenis tanaman berbeda.

Ube memiliki nama ilmiah Dioscorea alata, sedangkan ubi ungu yang umum dikonsumsi termasuk dalam spesies Ipomoea batatas.

Perbedaan lainnya terdapat pada karakter pertumbuhan tanaman. Ube merupakan tanaman merambat, sementara ubi jalar tumbuh menjalar di permukaan tanah.

Karakteristik pigmen yang lebih stabil terhadap panas menjadi salah satu keunggulan ube. Hal tersebut pula yang membuat tanaman ini berpotensi dikembangkan sebagai sumber pewarna alami untuk berbagai produk pangan.(detik)




Editor : Tim
Kategori : Gaya Hidup
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Jumat 30 Oktober 2026
Pasca Gudang Penimbun Dibongkar, SPBU di Riau Lancar, Polda Diminta Sikat Mobil Pelansir BBM

Rabu 28 Oktober 2026
Pentingnya Tawakal dalam Islam, dari Ketenangan Hati hingga Pintu Rezeki

Selasa 27 Oktober 2026
Jangan Merampas Hak Orang Lain, Ini Penjelasan Hukum Ghasb dalam Islam

Senin 26 Oktober 2026
Edi Sakura Buka KMD di Bathin Solapan, Cetak Pembina Pramuka Berkualitas untuk Generasi Muda

Sabtu 24 Oktober 2026
Pentingnya Memilih Teman Saleh untuk Menjaga Istiqamah dalam Beragama

Jumat 23 Oktober 2026
Polda Riau Tancap Gas Berantas Dugaan Penimbunan Solar, Antrean SPBU Mulai Terurai

Rabu 21 Oktober 2026
Mitsubishi Pajero Terbaru Dibanderol Rp1,06 Miliar, Ini Bedanya dengan Pajero Sport

Minggu 18 Oktober 2026
Bukan Sekadar Berita, Media Online Lokal Berpeluang Jadi Bisnis Menjanjikan pada 2027

Sabtu 17 Oktober 2026
Travel Warning ke Arab Saudi, AMPHURI: Umrah Tak Otomatis Dihentikan

Jumat 16 Oktober 2026
Dari Pinggir ke Panggung Dunia, Edi Sakura Buka JOTA-JOTI 2026 Pramuka Bengkalis

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top