Selasa, 3 November 2026

Breaking News

  • Sholat Dhuha Jam Berapa Sudah Boleh Dikerjakan? Ini Penjelasan Waktu dan Batas Akhirnya   ●   
  • Paguyuban FPK Riau Tampilkan Ragam Budaya, Meriahkan Arak-arakan LAM Riau   ●   
  • Paguyuban Sumbagsel dan FPK Riau Perkuat Silaturahmi, Jaga Keharmonisan Masyarakat   ●   
  • Pemkab Siak Gelar Yasinan dan Doa Bersama untuk Almarhum H. Arwin AS   ●   
  • SF Hariyanto: Jangan Lengah, Ancaman Banjir dan Longsor Mengintai Saat Musim Hujan   ●   
Dari Iseng Jadi Cuan, Kisah Jonathan Laramy Mengubah AI Menjadi Sumber Penghasilan
Rabu 19 Agustus 2026, 14:51 WIB
Ist.

JAKARTA - Memiliki pekerjaan tetap dengan penghasilan rutin tidak membuat Jonathan Laramy bertahan di pekerjaannya sebagai customer service. Pria berusia 32 tahun itu justru memilih mengundurkan diri dan beralih menjadi kreator video berbasis kecerdasan buatan (AI) secara penuh waktu.

Keputusan tersebut ternyata membuahkan hasil. Dalam wawancara dengan Business Insider, Laramy mengatakan pendapatannya dari membuat video AI kini lebih besar dibandingkan penghasilannya ketika masih bekerja sebagai customer service.

Laramy kini mengelola kanal YouTube "Chloe VS History" yang menyajikan konten sejarah dengan pendekatan berbeda. Kanal tersebut menghadirkan karakter AI bernama Chloe, seorang vlogger masa kini yang digambarkan dapat melakukan perjalanan melintasi waktu.

Melalui karakter tersebut, Laramy membawa penonton seolah-olah menyaksikan berbagai peristiwa sejarah secara langsung, mulai dari pelayaran perdana Titanic hingga kehidupan di kota kuno Pompeii sebelum dan saat letusan Gunung Vesuvius.

Berawal dari Iseng Eksperimen AI

Laramy mengaku tidak memiliki latar belakang di industri film maupun produksi video. Ketertarikannya pada konten AI justru berawal dari aktivitas mengisi waktu luang dengan mencoba berbagai kemampuan teknologi tersebut.

Sebelumnya, ia juga telah memiliki kanal media sosial yang membahas fakta-fakta sejarah. Eksperimen dengan AI kemudian berkembang menjadi gagasan untuk membuat konten sejarah melalui karakter Chloe.

Dalam proses produksinya, Laramy memanfaatkan sejumlah model AI untuk berbagai kebutuhan. Claude digunakan untuk mencari ide dan menyusun struktur naskah, sedangkan Nano Banana Pro dan ChatGPT digunakan dalam pembuatan gambar.

Gambar-gambar tersebut selanjutnya diubah menjadi klip video menggunakan Seedance 2.0. Laramy juga menggunakan teknologi suara berbasis AI agar karakter Chloe memiliki suara yang konsisten dalam setiap video.

Meski memanfaatkan teknologi AI, produksi konten tersebut tetap membutuhkan biaya yang cukup besar.

Laramy memperkirakan satu video berdurasi panjang membutuhkan biaya sekitar 300 hingga 800 poundsterling atau sekitar Rp7,2 juta hingga Rp19,2 juta. Biaya tersebut belum termasuk pengeluaran untuk revisi, yang menurutnya dapat mencapai sekitar 3 dolar AS atau sekitar Rp53 ribu dalam setiap proses generate.

Sempat Kesulitan Menghasilkan Uang

Dengan biaya produksi yang relatif besar, Laramy tidak langsung mendapatkan penghasilan yang signifikan.

Ia sempat mencoba mengembangkan kontennya melalui Instagram, TikTok, dan YouTube. Namun, pemasukan dari ketiga platform tersebut belum cukup untuk menjadikannya sebagai sumber penghasilan utama.

Di Instagram, misalnya, Laramy mengaku belum memperoleh banyak pemasukan karena platform tersebut tidak memberikan penghasilan hanya berdasarkan jumlah tayangan. Sementara di TikTok, ia belum diterima dalam program Creator Rewards.

Kondisi serupa juga terjadi di YouTube. Laramy mengatakan dirinya tidak langsung memperoleh keuntungan dari konten yang dibuat.

Perubahan mulai terlihat setelah ia mengembangkan konten dalam format video berdurasi lebih panjang.

Video dengan durasi sekitar 15 hingga 20 menit ternyata mampu menghasilkan pendapatan yang menurut Laramy lebih besar dibandingkan upah yang sebelumnya diterima sebagai customer service.

Meski tidak mengungkapkan angka pendapatan secara rinci, Laramy menilai keputusan meninggalkan pekerjaan lamanya untuk fokus menjadi kreator video AI merupakan langkah yang tepat.

AI Bukan Jaminan Sukses

Meski berhasil meningkatkan penghasilannya melalui konten berbasis AI, Laramy mengingatkan bahwa pengalaman tersebut tidak berarti AI merupakan jalan otomatis menuju kesuksesan.

Menurutnya, teknologi AI memang memungkinkan siapa saja membuat konten dengan lebih mudah. Namun, kemampuan menggunakan teknologi saja tidak cukup.

Kreator tetap perlu memahami jenis konten yang diminati penonton serta mampu menghasilkan materi yang memiliki daya tarik.

Pengalaman Laramy menunjukkan bahwa pemanfaatan AI dapat membuka peluang baru bagi kreator. Namun, keberhasilan tetap membutuhkan ide, strategi konten, konsistensi, serta pemahaman terhadap audiens.(Kompas)




Editor : Tim
Kategori : Gaya Hidup
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Jumat 30 Oktober 2026
Pasca Gudang Penimbun Dibongkar, SPBU di Riau Lancar, Polda Diminta Sikat Mobil Pelansir BBM

Rabu 28 Oktober 2026
Pentingnya Tawakal dalam Islam, dari Ketenangan Hati hingga Pintu Rezeki

Selasa 27 Oktober 2026
Jangan Merampas Hak Orang Lain, Ini Penjelasan Hukum Ghasb dalam Islam

Senin 26 Oktober 2026
Edi Sakura Buka KMD di Bathin Solapan, Cetak Pembina Pramuka Berkualitas untuk Generasi Muda

Sabtu 24 Oktober 2026
Pentingnya Memilih Teman Saleh untuk Menjaga Istiqamah dalam Beragama

Jumat 23 Oktober 2026
Polda Riau Tancap Gas Berantas Dugaan Penimbunan Solar, Antrean SPBU Mulai Terurai

Rabu 21 Oktober 2026
Mitsubishi Pajero Terbaru Dibanderol Rp1,06 Miliar, Ini Bedanya dengan Pajero Sport

Minggu 18 Oktober 2026
Bukan Sekadar Berita, Media Online Lokal Berpeluang Jadi Bisnis Menjanjikan pada 2027

Sabtu 17 Oktober 2026
Travel Warning ke Arab Saudi, AMPHURI: Umrah Tak Otomatis Dihentikan

Jumat 16 Oktober 2026
Dari Pinggir ke Panggung Dunia, Edi Sakura Buka JOTA-JOTI 2026 Pramuka Bengkalis

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top